Sistem Sosial-Budaya Etnis Bugis di Wilayah Karangantu, Banten

SEJARAH MASYARAKAT BUGIS DI KARANGANTU, BANTEN
Keberadaan etnis Bugis di Karangantu Banten sudah dimulai sejak awal abad ke-17 atau bahkan jauh sebelum itu etnis Bugis sudah ada dan menetap di Banten.
Pada awalnya, keberadaan orang Bugis di Kampung Bugis Karangantu Banten hanya beberapa orang saja yang tinggal hingga pada akhirnya menetap dan membentuk sebuah komunitas yang sekarang kita kenal dengan perkampungan etnis Bugis Karangantu.
Orang Bugis yang dikenal sebagai pelaut ulung juga menjadi salah satu faktor mengapa mereka bisa sampai ke Banten, bahkan banyak juga yang merantau ke daerah lain bahkan ke luar negeri untuk mencari daerah yang bagus . Karena mayoritas komunitas Bugis yang merantau dan tersebar di berbagai wilayah berprofesi sebagai nelayan, maka daerah pesisir adalah salah satu tempat strategis yang memungkinkan orang Bugis tinggal dan menetap karena ada peluang usaha yang bisa mereka tekuni, tak terkecuali seperti masyarakat yang tinggal di Karangantu, Banten


KONDISI MASYARAKAT DI KARANGANTU BANTEN
Melihat dari aspek kesukuannya, fenomena kependudukan di Kelurahan Banten sangat heterogen. Berdasarkan data yang disebutkan bahwa penduduk Kelurahan Banten terdiri dari suku-suku yang berbeda, yaitu: suku Jawa dengan jumlah populasi sebanyak 11.141 orang, suku Sunda berjumlah 212 orang, suku Madura berjumlah 196 orang, suku Batak berjumlah 64 orang, etnis Cina berjumlah 42 orang dan etnis Bugis dengan jumlah populasi mencapai 4324 orang. Hal ini didasarkan pada jumlah populasi masyarakat yang semakin bertambah setiap tahunnya.
Kelurahan Banten selain terkenal dengan peninggalan Bangunan Cagar Budaya yang terdapat di kawasan Banten Lama, ia juga memiliki sebuah pelabuhan yang cukup terkenal yaitu pelabuhan Karangantu. Letak pelabuhan ini persis di samping perkampungan etnis Bugis dan tidak jauh dengan pusat pemerintahan kesultanan Banten atau yang sering kita kenal dengan kawasan Banten Lama. Di pesisir pelabuhan Karangantu inilah orang-orang dari suku Bugis umumnya tinggal dan menetap di kampung tersebut dan menjadi bagian dari masyarakat Banten. 
Masyarakat Bugis yang saat ini menetap di Banten pun kini tidak hanya berprofesi sebagai nelayan saja, melainkan telah banyak yang mengembangkan diri mencari peluang usaha lain, bahkan beberapa telah sampai di ranah politik wilayah Banten yang menjadikan keberadaan etnis Bugis kian tidak terpisahkan.


IDENTITAS BUDAYA ETNIS BUGIS DI KARANGANTU BANTEN
Secara historis, Banten merupakan sebuah masyarakat multikultural di mana masyarakat Banten tidak hanya terdiri dari beragam etnis, ras dan suku yang mampu hidup berdampingan secara damai, tapi juga berbagai agama yang mampu hidup bersama dengan rukun.

BAHASA
Orang Bugis dikenal sebagai suku yang kuat mempertahankan identitas budayanya. Salah satunya pada aspek bahasa. Orang Bugis selalu menggunakan bahasa Bugis dalam kehidupan sehari-hari, sekalipun tidak lagi tinggal di tempat kelahirannya. Hal ini mudah kita temukan di hampir semua
komunitas orang Bugis di berbagai daerah, tidak terkecuali di Banten. Orang Bugis di Banten hingga saat ini masih menggunakan bahasa Bugis dalam kehidupan sehari-hari, kecuali berhadapan dengan tamu atau ketika berada dalam acara-acara formal seperti di kantor atau di sekolah.
Hal ini dilakukan sebagai upaya orang Bugis dalam mempertahankan budaya aslinya. Walaupun pada kenyataannya, sebagian anak-anak dan remaja keturunan Bugis yang tinggal di pesisir Karangantu Banten sudah jarang, bahkan tidak lagi menggunakan bahasa Bugis dalam percakapan sehari-hari karena faktor lingkungan sekolah dan adanya pengaruh dari media sosial yang menjamur.

KARAKTERISTIK
Sepanjang sejarah sosiokultural orang Bugis, mereka mempunyai karakter khas yang menjadi identitas budaya mereka. Karakter ini sudah melekat dalam jiwa setiap individu sejak zaman nenek moyang hingga sekarang. Salah satu diantaranya adalah kecenderungan luar biasa mereka untuk selalu mencari peluang ekonomi yang lebih baik di berbagai tempat yang menjadi tempat persinggahannya. Selain itu, daya adaptasi orang Bugis terhadap keadaan yang dihadapi sangat mengagumkan. Hal ini dikarenakan orang Bugis dikenal sebagai orang yang ramah dan sangat menghargai orang lain serta tinggi rasa loyalitas kekerabatannya, serta memiliki pandangan hidup yang teguh dalam menjalani kehidupan. Seperti :
1. Tidak mudah pasrah pada keadaan yang ada
2. Solidaritas dan kesetiakawanan yang kuat
3. Harga diri atau malu
4. Tata krama dan sopan santun

PANDANGAN HIDUP
Pandangan hidup yang paling mendasar bagi orang Bugis adalah Siri. Siri adalah rasa malu yang mendalam dan harga diri yang dimiliki orang Bugis atau bisa dijadikan sebagai perasaan malu yang memberi kewajiban moral untuk membunuh pihak yang melanggar adat. Bagi orang Bugis, kesadaran menjaga siri merupakan hal yang mutlak bagi setiap individu di kalangan masyarakat Bugis. Tidak ada hal yang paling berharga bagi masyarakat Bugis yang melebihi siri’. Apapun itu bisa dipertaruhkan, termasuk jiwa sekalipun, untuk mempertahankan harga diri mereka. 

ADAT ISTIADAT
Adat istiadat orang Bugis terdiri dari lima unsur pokok, yaitu:
1. ade, (norma)
2. wari, (peradilan)
3. rapang, (contoh, perumpamaan)
4. bicara (pelapisan sosial)
5. sara (syariah islam)
Kelima usur pokok tersebut terangkum dalam istilah Panngaderreng/ Panngadakkang yang merupakan wujud dari kebudayaan mereka. Panngaderreng/Panngadakkang ini merupakan sistem norma dan aturan-aturan adat yang keramat dan sakral bagi orang Bugis-Makassar, baik yang hidup di Sulawesi Selatan maupun yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.
Aturan dan norma yang terangkum dalam Panngaderreng/Panngadakkang ini mengikat hidup masyarakat Bugis dan Makassar dimanapun mereka tinggal dan menetap karena ini menjadi pandangan hidup (World View) masyarakat Bugis.



REFERENSI
- Kinseng, R., A., & Saharuddin. 2009. “Pola Penyebaran dan Mobilitas Sosial Nelayan Budis di Indonesia”. Prosiding Seminar Hasil-Hasil Penelitian. Fakultas Ekologi Manusia: IPB.
- Risnanto, Agung Fajar (2019) Akulturasi Etnis Bugis Banten pada Tradisi Tudang Peni dalam Perspektif Komunikasi Antarbudaya (Studi Kasus di Kampung Baru Bugis, Karangantu, Kec. Kasemen – Kota Serang). Diploma atau S1 thesis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Situs Watu Lumpang: Sebuah Bangunan Peninggalan Zaman Megalitikum di Banyumas

Ebeg: Kesenian Tari Khas Banyumas yang Memiliki Unsur Mistis